Sabtu, 16 Januari 2021

TAK BERARAH

 aku tak mampu membaca rasaku

apa yang tertulis sekarang
sedikitpun aku tak mampu mencernanya
semuanya nampak abstrak bagiku
tak ada secercah petunjuk
membuatku tersesat dalam kebimbangan

aku butuh penunjuk arah
entah timur atau barat
langkah mana yang harus kuambil
aku tak punya pandangan

knapa pena itu tak dapat kubaca
tulisan itu pun tak mampu kupahami
padahal huruf itu tampak jelas
apakah rasaku telah buta??

entahlaaahh.. aku tlah lelah..
kemana rasa ini akan berpijak??
tuhan pun tak lekas beri jawaban
sudahlaahh.. tunggu saja saatnya

PUISI TERAKHIR

 PUISI TERakhiR


Kau datang.... memecah semua kebisuan..
Menghapuskan  semua air mata
Hening kurasa lenyap sudah..
Kini ku bisa pergi dengan tenang..”

Sore itu angin berhembus  kencang, memecah awan kelabu  yg tertutup kabut mendung. Kau duduk termenung di bangku taman, tersirat kesedihan yg mendalam dari sorot matamu. Dan pada saat itulah untuk pertama kalinya aku melihatmu menagis. Terfikir oleh ku untuk mendekatimu dan menghapuskan air mata di pipi mu, tapi niat ku terhenti, karna kedatangan nya. Tiba-tiba dia datang menghampirimu, dan mengajakmu pergi entah kemana. Dan aku hanya bisa terdiam dalam keheningan.

Keesokkan harinya, aku kembali melihatmu duduk termenung di taman itu. Seperti saat kemarin, kau masih saja menangis. Ingin skali aku menghampirimu dan menyentuhmu, menghapuskan semua air mata yg tak berhenti mengalir membasahi pipi mu. tapi saat aku mendekat, kau sama skali tak melihatku. Aku berteriak” dihadapanmu, memanggil” namamu, tapi kau juga tak bisa mendengar suaraku , Aku benar” ingin memeluknmu, tapi bagaimana mungkin.... Skarang dunia kita sudah berbeda. Aku disini sendiri, dan kau disana bersamanya. Bersama dia, orang yang sama seperti hari kemarin yang mengajakmu pergi meningglkan taman ini.

Aku tak mengerti mengapa tuhan tega memisahkanku dari orang” yg aku cintai. Knapa tuhan tega membiarkanku berada sendiri disini, tak ada satupun yg menemani. Hanya sepi dan hening yg kurasa. Tak seperti setahun yg lalu, saat aku masih bisa menyentuhmu.

Saat itu, matahari bersinar terik dan memancarkan sinarnya. Kau dan aku duduk bersama di bangku taman yg sedang kau dudukki skarang.
“ve, kalo kita udah lulus ntar kamu mau daftar di universitas mana?” katamu, sambil mengeluarkan kertas ungu dari tasmu.
“tauuuk deh, masih belom kefikiran tuuh.. nah kamu sndiri mau nglanjutin kuliah dimana? Jawabku.
“kalo aku sih, ngikut kamu ajaaa. Hehe” katamu, yg sibuk sendiri mencorat coret kertas ungu yg kau kluarkan dari tasmu.
“yeee, kok ngikut aku siih?? Dasar gak kreatif...”
“biarin, suka” aku dong.”
“eh kamu lagi ngapain sih, dari tadi asyik sendiri. Itu kertas apaan?”
“lagi nulis puisi”
“hah? Puisi? Haha gak salah nih... seorang Fahriza Renanda Adiatama bisa nulis puisi?? Mustahil banget deh.”
“sialan lo, biarpun tampang gue kelihatan bandel gini. Tapi hati gue tuh puitis tauk”
“emang kamu lagi nulis puisi tentang apa ri?”
“tentang penantian seorang pangeran dalam mencari permaisurinya”
“haha, idiiih najis lo. Sok puitis banget sih. Gak pantes tauk”
“denger yaaa, nona Velisa Alfaro yang super duper resek. Masih mendingan gue, walaupun gentlemen tapi masih bisa bikin puisi. Nah elu yang katanya miss perfect, tapi mbikin puisi aja gak bisa. ”
“yeee, bukannya gue gak bisa.. tapi males ajaaa. Lagian hal kayak gitu tu gak penting. Cuma buang” waktu.”
“ciih, bilang ajaa kalo lu emang gak bisa. Gak punya bakat siih.haha”
“ah brisik, udah deh mending lu trusin aja noh nulis puisinya. Dari pada nggangguin gue mlulu”
“tuuh kan, kalo emang gak bisa udah bilang ajaa. Sini, biar gue ajarin.” Ejek fahri yg kemudian mengulurkan selembar kertas ungu.
“buat apaan niih kertas?”
“yaa buat elo nulis puisi laah. Niih, simpen baek” yaaah, jangan sampe ilang. Ntar begitu sampe rumah, elu buat deh puisi buat gue. Yaah itung” buat kenang”an gitu kalo ntar kita udah lulus nah ntar kalo udah slesei bikin puisinya, pas perpisahan ntar lu kasih deh tuh puisi karya lu ke gue. Trus ntar gue juga bakal ngasih puisi karya gue buat elo..”
“laah kan kamu tau, kalo aku paling gak bisa kalo di suruh bikin puisi.”
“nah maka dari itu, ntar gue ajarin deh.”
“beneran niih?”
“iyeeee, bawel amat sih lu.”

Semenjak saat itu, setiap sore sepulang skolah. Kita slalu ke taman. Kau mengajari ku untuk membuat puisi, puisi yang nantinya akan ku berikan padamu sebelum aku akan pergi meninggalkanmu.

hari itu semakin dekat..
Aku takut kalo nantinya..
Rasa ini tak sempat tersampaikan..
Haruskah aku meminta tuhan untuk menghentikan waktu??”

Hari kelulusan pun akhirnya tiba, sesuai dengan janjimu. Sore itu stelah acara kelulusan selesai, kau pun menunggu ku di taman itu. Tapi , hingga malam hampir tiba. Aku tak kunjung datang. Kau duduk termenung, dan menggenggam selembar kertas ungu. terlihat seberkas kekecewaan dari raut wajahmu. Malam tlah datang, dan kau pun pergi meninggalkan taman dengan langkah penuh kecewa. Dan aku tak bisa berbuat apa”, aku tak bisa mencegahmu untuk tidak pergi meninggalkan taman itu, agar aku dapat menemuimu dan menepati janjiku untuk memberikan puisi ini kepadamu. Tapi apa daya ku?? aku hanya bisa terkapar tak berdaya, terbalut kain putih dan dikelilingi orang” yang menagisi ku. Mereka menangisi kepergianku.

Tiga tahun aku menahan semua derita ini, penyakit kanker yang sudah lama menggerogoti tubuh ku semenjak awal kita dipertemukan. pada saat penerimaan murid baru. Dulu sebelum aku mengenalmu, aku slalu berfikir “kapan tuhan akan memanggilku?”  Karna aku lelah dengan keadaan semua ini. Aku ingin segera pergi, agar aku bisa tenang disana. tapi semenjak aku mengenalmu, aku seperti memiliki semangat hidup baru. Bahkan aku takut kalau tiba” tuhan akan mengambil nyawaku. Sejak awal kita dipertemukan perasaan aneh ini mulai muncul, stiap pagi hari saat aku membuka mata, hanya ada satu nama yang slalu muncul difikiranku yaitu “Fahriza Renanda Adiatama” seseorang yang sangat berarti untukku, yang bisa membuatku bertahan hidup.

“ri, kamu harus bisa merelakan velisa. Biarkan dia tenang disana.” Ucap seorang wanita yang duduk disampingmu.
“aku gak bisa re, meskipun dia sudah pergi. Tapi rasanya dia masih disini”
“dia udah meninggal ri, harusnya kamu bisa mengikhaskan dia. Biar kamu gak terus”an terpuruk sperti ini. Kamu harus bisa membuka hati mu untuk orang lain”
“renata, aku gak bisa!!”
“kamu pasti bisa ri, lupain velisa. Kamu gak bisa kayak gini terus, move on ri. Velisa pasti bakal kecewa kalo kamu terpuruk sperti ini.”
“kamu bener re, harusnya aku bikin velisa bangga. Biar dia bahagia disana.”
“yaudah, mending besok kita ke makamnya velisa.”
“iyaa, makasih re. Kamu udah bikin aku tenang”
“iya samasama.”

 Hari ini kau datang ke makamku, kau datang bersamanya. Kau menangis dan memandangi batu nisan yang tertuliskan namaku. Sesaat kemudian kau mengeluarkan selembar kertas ungu dan meletakkannya diatas makamku.

Mencintaimu, adalah  sesuatu yang tak bisa aku hindari...
Terlalu kuat panah asmara yang tertancap karnamu..
Sekeras apapun aku mencoba menepis rasa ini..
Dalam benak ku slalu hadir bayangmu..”

By: Fahri

 Selembar kertas yang harusnya kau berikan padaku saat perpisahan hari kelulusan. Namun karna tuhan tlah memanggilku, kau pun tak sempat memberikan puisi itu pada ku.. Puisi terakhir untukku.... kemudian kau pergi meninggalkan makamku  ku, kau pergi bersamanya. Aku tau dari semenjak awal kita dipertemukan , aku tak kan pernah bisa memilikimu. Tapi setidaknya aku sudah cukup bahagia, karna ternyata kau juga mencintaiku. meskipun aku tak sempat menyatakan perasaan ku kepadamu.

“Kau datang.... memecah semua kebisuan..
Menghapuskan  semua air mata
Hening kurasa lenyap sudah..
Kini ku bisa pergi dengan tenang..
Jangan pernah menangisi kepergianku..
Karna itu akan membuatku smakin terluka..
Hanya satu permintaan terakhir ku...
Ijinkan aku melihatmu bahagia,,
walaupun  kau tak bersamaku...”

by: Velisa

KUPU-KUPU SENJA

 Langkahnya semakin jauh.. meninggalkan ribuan jejak semu. Kakinya terus melaju.. tak peduli akan seekor kupu-kupu yang terjatuh di belakangnya. Kupu-kupu itu berteriak lirih memanggil-manggil namanya.. namun dia tetap memandang ke depan. Tak pernah sekalipun ia menengok ke belakang, apapun hal yang terjadi ia tak menghiraukannya. Langkah kakinya kian mantab.. jejak-jejaknya pun terasa semakin berlalu. Tak tau arah manakah yang akan menghentikan jejaknya.. tempat manakah yang akan ia tuju..


Langkah kakinya bergerak semakin cepat.. sementara sang kupu-kupu terus terbang mengikuti arah jejaknya. Namun ia tetap tak menyadai keberadaan sang kupu-kupu itu. Matanya hanya tertuju pada satu tempat itu.. tempat yang akan ia tuju. Suatu tempat yang jauh.. Tempat dimana sang kupu-kupu tak akan bisa menemukan jejaknya lagi..

Sang kupu-kupu terus mengepak-ngepakkan sayap rapuhnya yang hampir patah, dan terus mengejar sosok yang hampir tak terlihat bayangnya.. hingga akhirnya kabut senja pun tiba, kupu-kupu itu kembali terjatuh.. pandangannya kabur, seluruh matanya tertutup oleh gelapnya kabut senja.. semuanya tak dapat terlihat. Seketika itu juga, sosoknya tak terlihat lagi.. kupu-kupu itu telah kehilangan jejaknya. Menyadari hal itu, sang kupu-kupu semakin putus asa.. namun ia tetap berusaha untuk terbang.. kupu-kupu itu terus mengepak-ngepakkan sayapnya.. namun lagi-lagi terjatuh.. kini sayapnya benar-benar patah.. 

LIFE LIKE A FLOWER

 Tak ada bunga yang akan mekar tanpa terguncang..

Semua bunga indah di dunia ini mekar saat sedang terguncang..

Saat sedang terguncang, batangnya akan menjadi lurus..

Tak ada satupun kelopak yang tak pernah goyah..

Dimana ada bunga yang akan mekar tanpa terkena tetesan air hujan???

Semua bunga yang bersinar di dunia ini mekar saat tersiram hujan..

Ketika tertiup angin dan tersiram hujan, kelopak bunga mekar dengan hangat..

Seperti layaknya bunga yang akan mekar,,  Di dunia ini , Tak ada kehidupan yang berjalan tanpa ada masalah..

KAKI

 Hendry Wicaksono, seorang pria paruhbaya yang kini hampir menginjak usia 45 tahun. Ia tengah tersenyum menatap Resti Anggita, buah hatinya yang sedang sibuk melepas sepatu di depan pintu rumah. Sepeninggal ibunya lima tahun silam, Hendry hanya tinggal berdua dengan Resti, satu-satunya putri yang amat disayanginya.

“Gimana tadi di Sekolah?? Ada pelajaran yang susah nggak ?” Tanya Hendry seraya mengusap lembut kepala anaknya.
Resti menoleh dan tersenyum menatap wajah sendu ayahnya “Tadi ibu guru bilang kalo minggu depan Resti sudah mulai Ulangan Semester yah.”
“Kalo begitu Resti harus belajar lebih giat mulai sekarang, supaya nanti kamu bisa dapat peringkat pertama.”
Resti mendekat, Di pegangnya kursi roda yang sedang diduduki ayahnya “Iya ayah, Mulai sekarang Resti mau belajar lebih sungguh-sungguh, Resti pengen buat ayah bangga”
Hendry tersenyum lebar, dipeluknya putri semata wayangnya itu “Ayah bahagia sekali bisa memiliki putri seperti Resti.”
“Ayah sudah makan?” Tanya Resti sembari berjalan ke dapur, ia berjalan dengan penuh air mata berlinang di pipi mungilnya.
“Ayah belum makan, Dari tadi ayah menunggu Resti pulang.” Jawab sang ayah dari ruang tamu.
“Yasudah, Resti buatkan tempe goreng yaa.” Jawab Resti sembari mengusap air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
Sesaat kemudian, Resti keluar dari dapur lalu berjalan ke ruang tamu sambil membawa sepiring tempe goreng dan sebakul nasi hangat. Sepanjang sore kedua ayah dan anak itu duduk di ruang tamu dan menyantap lahap makanan yang telah dibuat Resti.
***

Resti merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur kumuhnya, disekeliling kamarnya nampak cat dinding yang sudah mulai berwarna kusam dan mengelupas termakan usia. Resti menatap atap kamarnya, dirasakanya hangat cahaya lampu remang-remang yang terpasang di langit-langit kamarnya. Sejenak ia mulai memejamkan mata, serangkaian peristiwa yang telah terjadi di sekolah tadi siang kembali membayanginya. Ia masih teringat akan kata-kata cemoohan teman-temannya yang tak pernah berhenti menghinanya.
 “Ayah macam apa yang kerjanya tiap hari Cuma duduk di kursi roda!!” Ejek Wina, teman sebangku Resti, yang kemudian selang beberapa saat terdengar suara ricuh tawa teman-teman sekelasnya. Mereka semua menertawakan Resti.
“Diam!!!!” Teriak Resti, ia berdiri dan menatap semua teman-teman yang mengejeknya. Perlahan pandangannya mulai kabur, air matanya mulai berlinang.
“Woy diem woy!! Si anak yang ayahnya lumpuh lagi ngomong nih hahahhaaha” Sahut Deni salah satu teman sekelas Resti, ia berdiri sambil mengangkat satu kakinya, dan menirukan cara berjalan ayahnya Resti.  Sesaat kemudian, terdengar tawa ricuh seluruh anak.
Resti hanya bisa terdiam, ia pun segera berlari ke luar kelas. Air matanya sudah tak tertahan lagi, namun saat ia hendak berjalan menuju pintu, tak sengaja ia bertabrakan dengan gurunya.
“Resti , kamu mau kemana?” Tanya guru itu dengan wajah penuh kebingungan menatap Resti yang sedang menangis.
“Sa..saya mau ke toilet bu.” Jawab Resti sambil sesenggukkan
“Kamu kenapa menangis?? Nanti setelah dari toilet, temui Ibu di kantor ya. Ada hal penting yang harus Ibu sampaikan.”
“Iya bu, Saya permisi.”
Resti berjalan menuju toilet, langkahnya gontai. Hatinya sangat terluka, terlebih lagi saat perlahan bayangan wajah ayahnya muncul dipikirannya. Ia tak pernah mengira jika kehidupannya akan berubah drastis seperti ini. Tak pernah terpikirkan oleh Resti jika ia akan kehilangan sosok Ibu yang amat dicintainya. Lima tahun silam, saat malapetaka itu terjadi, Ibunya pergi meninggalkan Resti dan Ayahnya.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam, sini masuk Res.” Jawab Guru Resti
Resti berjalan menuju kursi, lalu ia duduk berhadapaan dengan gurunya. “Ada apa bu? Kenapa Ibu memanggil saya?” Tanya Resti dengan wajah polos.
“Begini Res, sebentar lagi kan Ujian Semester. Semua siswa diwajibkan untuk melunasi SPP. Kamu tau kan kalau SPP mu sudah nunggak dua bulan” Jawab Ibu guru dengan nada penuh hati-hati, ia tak tega mengatakan hal ini kepada Resti.
“Iya, saya tau bu. InsyaAllah saya akan segera melunasinya, mohon beri waktu tambahan agar saya bisa mencari uang untuk melunasinya.”
“Baiklah Ibu mengerti, Seminggu lagi harus sudah lunas ya. Sekarang kamu boleh kembali ke kelas.”
“Baik bu, Saya permisi dulu.”
***

““ALLAAHU AKBAR,ALLAAHU AKBAR.. ALLAAHU AKBAR,ALLAAHU AKBAR..ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH.. ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH..ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH..ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH”. Suara adzan Maghrib membuyarkan lamunan Resti. Tak terasa sudah hampir setengah jam ia melamun sambil menatap langit-langit atap kamarnya.
“Resti, ayo shalat maghrib dulu!” Panggil ayahnya dari luar kamar
“Iya ayah, sebentar” Resti segera bangun, lalu mengambil air wudhu.
Tak lama kemudian kedua anak dan ayah itu melaksanakan shalat maghrib berjama’ah.

***
Keesokan harinya, saat Resti pulang dari sekolah, di depan pintu rumahnya ia melihat sepasang sepatu kulit mengkilap berwarna coklat. Resti merasa sangat familiar dengan sepatu kulit itu. Setelah melepas sepatunya, Resti pun berjalan menuju ruang tamu, ia ingin memastikan siapa tamu yang sedang berada dirumahnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja ia mendengar perbincangan ayahnya dengan sosok pria yang wajahnya sangat ia kenali.
“Kalau begitu, surat ini aku bawa dulu. Nanti kalau kau sudah punya uang, silahkan tebus kembali surat tanah ini.” Kata Tomi, Sosok Pria Paruhbaya yang sudah lama menjadi teman Hendry sejak mereka SMP.
“Iya, aku mengerti. Terimakasih banyak ya. Maaf sudah merepotkanmu Tom.”
“Tak masalah Hen, Toh kita sudah lama berteman. Apa salahnya jika aku membantumu. Yasudah kalau begitu aku pergi dulu” Jawab Tomi yang kemudian berdiri dan hendak berjabat tangan dengan kawan lamanya itu.
Mendengar perbincangan itu, Resti sangat syok. Ia kembali memakai sepatunya dan berlari meninggalkan rumah gubuknya itu. Resti berlari sangat kencang, air matanya lagi-lagi tertumpah tak terkendali membasahi pipinya. Langkah kakinya terus berjalan menelusuri trotoan jalan raya. Ia benar-benar tak sanggup membendung luka hati yang saat ini tengah dideritanya. Dalam hati ia berkata, “Ya Allah.. Kenapa harus ayah yang kau buat menderita.. Kenapa harus dia?? Resti tak pernah menyangka jika ayah akan kehilangan kakinya. Dulu ayah sangat gagah, dan Ibu sangat mencintai Ayah. Tapi kenapa, hanya karena Ayah lumpuh Ibu pergi meninggalkan ayah.. Jika saja peristiwa itu tak pernah terjadi!! Mungkin saat ini Resti punya keluarga yang utuh. Lalu sekarang Resti harus bagaimana ya Allah??”
Di pinggir jalan raya, Resti duduk tersungkur. Ia kembali mengingat peristiwa lima tahun yang lalu. Sebuah peristiwa malapetaka yang kini membuat Ayah yang amat dicintainya kehilangan kakinya, Peristiwa yang membuatnya ditinggalkan satu-satunya sosok Ibu yang sangat ia Sayangi. Lima tahun yang lalu tepat saat Resti  merayakan ulang tahun perkawinan Ayah dan Ibunya, mendadak atasan ayahnya menelpon dan memberitahukan bahwa ayahnya harus segera datang ke lokasi kebakaran. Ditengah-tengah hari bahagia itu, ayahnya pamit untuk pergi bekerja. Sudah hampir sepuluh tahun Ayah Resti bekerja sebagai Petugas Pemadam Kebakaran. Namun sesaat setelah kepergian ayahnya, Ibu Resti menerima telepon dari rumah sakit. Pihak Rumah Sakit mengabarkan bahwa, Ayah Resti berada di ruang ICU dan keadaannya kritis. Ternyata kecelakaan itu terjadi, ketika ayahnya sedang menyelamatkan anak kecil yang terjebak kebakaran di sebuah hotel, tiba-tiba sebuah kayu terjatuh dari atap kamar hotel dan kayu itu menimpa kaki ayahnya. Sang ayah memang dapat terselamatkan, namun sayang karna tertimpa kayu maka salah satu kakinya harus diamputansi. Akhirnya Hendry kehilangan kaki kirinya. Beberapa hari setelah peristiwa itu, Istri Hendry yang juga merupakan Ibunya Resti pergi dari rumah. Ibunya tak tahan dengan ejekan para tetangga yang selalu mengolok-olok kaki ayahnya Resti. Semenjak saat itu Resti dan ayahnya hanya tinggal berdua disebuah rumah gubuk kecil peninggalan kakek Resti di Desanya. Rumah mewah yang dulu mereka tinggali sudah terjual, dan uangnya untuk pengobatan ayah Resti.
 “ALLAAHU AKBAR,ALLAAHU AKBAR.. ALLAAHU AKBAR,ALLAAHU AKBAR..ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH.. ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH..ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH..ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH” Lagi lagi suara adzan maghrib membuyarkan lamunan Resti. Ia langsung berdiri dan segera pulang ke rumah, ia takut jika ayahnya menghawatirkannya.
***

Ketika hampir sampai, ia terkejut karena melihat ayahnya yang duduk di kursi roda sudah berada di depan pintu
“Resti, kamu dari mana saja nak? Maghrib begini baru pulang?” Tanya ayahnya, dengan wajah penuh khawatir.
Resti menunduk “Resti habis mengerjakan tugas kelompok di rumah teman yah.”
“Yasudah ayo masuk, di luar dingin nanti kamu bisa masuk angin. Ayah buatkan teh hangat ya untuk Resti.” Kata Hendry sambil mengusap lembut kepala anaknya.
“Tidak usah yah, Resti sedang tidak haus. Ayah sudah makan?”
Tersenyum sejenak “Belum, ayah nunggu Resti.  Ayo kita makan bersama”
Mendengar jawaban ayahnya, Resti sangat sedih. Air matanya hampir tumpah, namun ia berhasil untuk menahannya.
***

Saat mereka makan malam, Ayahnya menyodorkan amplop yang berisi uang ratusan ribu.
“Ini uang SPP mu yang sudah nunggak dua bulan, besok langsung dibayarkan ya”
Resti sangat terkejut mendengar perkataan ayahnya. Dalam hatinya ia bertanya-tanya , Bagaimana bisa ayahnya tau kalau SPPnya nunggak dua bulan.
Dengan penuh hati-hati Resti menjawab “Ini uang dari om Tomi ya? Aa..Ayah menjaminkan Rumah kita supaya bisa melunasi SPP Resti ya?”
Hendri terdiam sesaat. Ia tak tau harus berkata apa pada putrinya.
“Iyaa kan yah?? Jawab Resti yah? Jangan berbohong pada Resti. Resti tau, tadi sore saat Resti pulang sekolah, tak sengaja Resti mendengar perbincangan ayah dengan om Tomi” Kata Resti terbata-bata.
Hendry mendekat dan langsung memeluk anaknya “Maafkan Ayah Res, Hanya ini satu-satunya yang bisa ayah lakukan agar kamu bisa tetap sekolah”
Resti menagis kencang, ia tersungkur tak berdaya di pelukan ayahnya.
***

Seminggu telah berlalu, Resti melewati Ujian Semesternya dengan baik. Berkat surat tanah yang digadaikan ayahnya, ia diijinkan untuk mengikuti Ujian. Hingga kemudian,  tiba saatnya hari yang sangat ditunggu-tunggu tiba.
“Peringkat pertama tahun ini diraih oleh Resti Anggita, kelas X 1 IPA”
Resti Terkejut, mendengar Kepala Sekolah menyebutkan namanya. Ia segera berjalan menuju keatas panggung untuk memberi kata sambutan.
“Assalamulaikum. Pertama saya sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Allah SWT. Saya benar-benar tidak pernah menyangka kalau saya bisa peringkat pertama. Saya sangat berterimakasih kepada Ayah saya, yang selama ini tak pernah berhenti mendukung dan bahkan banyak berkorban agar saya tetap bisa bersekolah. Terimakasih ayah, Resti sangat mencintai ayah, Resti tak peduli meskipun orang-orang selalu berkata bahwa ayah lumpuh. Bagi Resti, ayah itu seorang pahlawan. Ayah rela mengorbankan kakinya demi menyelamatkan seorang anak kecil yang terjebak di hotel lima tahun yang lalu. Resti bangga samaAyah.
Mendengar ucapan anaknya diatas panggung, Hendry tersenyum bahagia. Ia sangat bahagia melihat putrinya berdiri anggun diatas panggung sana.
Tak lama kemudian semua teman-teman Resti bertepuk tangan, mereka bangga memiliki teman seperti Resti. Mereka juga menyesal karena selama ini telah menghina Resti dan Ayahnya.
***


Setibanya di Rumah.
“Tok..Tok.Tok..” Suara pintu diketuk.
Resti berjalan menuju sumber suara “Biar Resti yang buka yah”
Betapa terkejutnya ketika Resti melihat sosok Lelaki Paruhbaya yang berdiri di depan pintu. Lelaki itu adalah Tomi, namun kali ini Tomi datang dengan seorang anak perempuan yang memakai seragam putih abu-abu. Anak perempuan itu sangat familiar bagi Resti. Sosok perempuan itu adalah Wina, teman sebangku Resti yang sering mengolok-olok ayahnya.
“Wi..Winaa..”
Wina pun tersenyum lebar “Selamat ya Resti, kamu memang pantas mendapat peringkat pertama. Emm dan aku juga minta maaf ya, karena selama ini aku selalu menyakiti hatimu.”
Resti tersenyum “Iya  gak papa Win, Aku tau kamu sebenernya baik kok. Makasih yaa”
Dari ruang tamu terdengar suara Hendry “Siapa Res yang datang?”
Belum sempat Resti menjawab, Tomi dan Wina langsung masuk menuju ruang tamu.
Hendry ikut terkejut melihat kedatangan Tomi dan anaknya, ia berpikir bahwa Tomi datang untuk menagih hutang.
”Tomi, ada apa kau datang kemari? Ayo silahkan duduk. Res buatkan minum buat Om Tomi dan Wina” Kata Hendry tersenyum lebar menatap Tomi dan Wina
“Iya yah” Jawab Resti singkat, ia pun berjalan ke dapur.
“Begini, kedatanganku kemari untuk memberikan ini kepadamu” Ucap Tomi memulai perbincangan, ia menyerahkan sebuah map coklat yang didalamnya berisi surat tanah milik Hendry.
Kaget dan Terkejut “Ini untukku? Bukankah aku belum melunasi hutang-hutangku?”
“Kau salah Hen, Akulah yang belum melunasi hutang-hutangku” Jawab Tomi sambil tersenyum
Hendry bingung “Hutang? Hutang apa Tom? Seingatku, kau tak pernah satu kalipun berhutang padaku.”
“Aku berhutang nyawa padamu Hen”
“Nyawa?” Jawab Hendry dengan mimik muka semakin bingung
“Iya nyawa. Kau tak ingat, lima tahun yang lalu kau telah menyelamatkan Wina dari peristiwa kebakaran di Hotel itu. Kalau bukan karena kau, aku pasti sudah kehilangan Putriku.”
“Om Hendry, Wina sangat berterimakasih. Berkat pengorbanan Om, Wina masih bisa hidup sampai sekarang” Sahut Wina sambil menatap Hendry, ia tersenyum tulus.
“Aku melakukan itu karena itu memang pekerjaanku, sudah kewajiban seorang petugas pemadam kebakaran untuk menyelamatkan mereka yang membutuhkan pertolongan. Jadi jangan jadikan ini sebagai hutang yang harus dilunasi. Aku ikhlas menyelamatkan anakmu.”
“Kalau begitu, ijinkan aku membiayai sekolah Resti hingga nantinya ia lulus. Dan tolong terima surat tanah ini. Ini milikmu Hen”
“Maaf, aku tidak bisa menerima kebaikanmu Tom. Aku sudah terlalu sering menyusahkanmu.”
“Jangan begitu Hen, pikirkan masa depan Resti. Aku tidak pernah merasa kau menyusahkanku. Justru aku senang jika kau meminta pertolonganku, itu berarti kau menganggapku teman.”
“Iya Om, Mohon diterima bantuan dari ayah. Tidak baik menolak rezeki. Resti juga pasti akan senang menerimanya. Ucap Wina dengan wajah polosnya
“Baiklah, aku akan menerimanya. Terimakasih banyak Tom, aku dan Resti tidak akan pernah melupakan kebaikanmu.”
Beberapa saat kemudian Resti datang membawa minuman
“Ini minumnya. Silahkan diminum, Om,Wina” Kata Resti sembari menyajikan minuman di meja
Tomi mendekat ke Resti, ia menyerahkan amplop yang berisi uang “Res, tolong kamu terima ini untuk perawatan kaki ayahmu.”
Mendengar hal itu Resti langsung mengeluarkan air mata, namun kali ini bukan air mata kesedihan, ia benar-benar bahagia. Resti langsung memeluk ayahnya, yang duduk terpaku di kursi roda.
“Ayah, tolong terima bantuan dari Om Tomi. Resti ingin melihat ayah bisa berjalan lagi.”
Hendry memeluk Resti, ia tersenyum manatap Tomi dan Wina “Terimakasih Tom, aku tak tau harus berkata apa lagi.”
Resti bersujud “Ya Allah, terimakasih. Engkau telah menjawab doaku”